Malamnya Di Dafam, Paginya Nikmati Dinginnya Embun Es Dieng

TRAVELNESIA, WONOSOBO- Frost di Dataran Tinggi Dieng yang dikenal sebagai embun upas atau embun es terjadi karena posisi geografis dan topografinya berada pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Selain karena tiupan angin pada puncak musim kemarau yang membawa udara dingin, langit cerah atau clear sky tanpa tutupan awan juga menjadi penyebabnya. Datangnya embun es biasanya pagi hari. Saat Agustus ini banyak wisatawan memilih kuliner malam di kawasan kota Wonosobo yang komplit.
Salah seorang wisatawan asal Bandung, Selomita Anandya (25) saat ditemui di hotel Dafam mengatakan akhir pekan ini ingin menikmati sensasi embun es di Dieng. Dia dengan keluarga stay 2 hari untuk mengakses kuliner khas Wonosobo lalu pagi hari nikmati indahnya Dieng. “Tiap ke Wonosobo nginap di Dafam. Di kota tidak susah nyari kuliner malam,” katanya.
Setelah pagi hari, imbuhnya, dia baru naik ke Dieng untuk wisata embun es atau orang-orang lokal menyebutnya embun upas yang mematikan tanaman sayur mayur itu. Selomita sudah tiga kemarau ini, yaitu setiap bulan Agustus piknik ke Wonosobo dengan pola seperti sekarang.”Sama keluarga. Nginapnya di kota biar tidak terlalu dingin, paginya baru wisata with view naik biar ada sensasinya,” jelasnya.
Fenomena dinginnya embun es dieng dikupas peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Bentuk wilayah yang cekung juga menyebabkan udara mengendap dan terjebak di dasar cekungan, sehingga tidak dapat mengalir keluar dari cekungan,” jelasnya dilansir dari webinar series ORKM bertajuk “Urgensi Mempertahankan Salju Dieng-Cartenz sebagai Indikator Ekosistem & Lingkungan” pada Kamis (9/7).
Aries mengemukakan penyebab lainnya, seperti adanya kondisi angin tenang pada dini hari dan terjadinya penurunan suhu ekstrem hingga mencapai titik beku. Frost di dataran tinggi Dieng ini telah mengakibatkan kerusakan pada tanaman pertanian setempat, terutama tanaman kentang.
Dalam hal pertanian potensial dan teknologi modifikasi cuaca (TMC), Aries menyampaikan temuannya bahwa Cartenz tidak memiliki potensi untuk pertanian. Namun, tidak menutup kemungkinan akan ada pengembangan teknologi yang tepat. Di Cartenz, tanaman yang tumbuh hanya lumut saja, sehingga teknologi pengembangan pertanian di lokasi ini menunggu hasil penerapan pada lokasi yang sering terjadi fenomena embun upas.
“Di dataran tinggi Dieng, tanaman eksisting adalah tanaman pertanian hortikultura atau perkebunan dataran tinggi, seperti kentang, sayuran, teh, dan lainnya. Sehingga disarankan untuk tetap mengembangkan tanaman eksisting tersebut dengan adanya antisipasi terhadap munculnya frost pada waktu-waktu tertentu,” ungkap Aris.
Menurutnya pembuatan salju melalui TMC di Cartenz sangat diperlukan untuk pelestarian salju abadi yang kondisinya saat ini terus menyusut. Sebaliknya, TMC salju di dataran tinggi Dieng, bukan untuk menambah volume saljunya, melainkan untuk mengantisipasi terjadinya salju.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *