Cerita Burung Kakapo yang Unik asal Selandia Baru

TRAVELNESIA, JAKARTA- Kakapo (Strigops habroptilus) adalah salah satu burung paling unik yang masih bertahan hidup di dunia. Burung asli Selandia Baru ini merupakan satu-satunya jenis burung nuri yang bersifat nokturnal sekaligus tidak bisa terbang, dan tercatat sebagai burung nuri terberat yang pernah ada, dengan bobot dewasa yang bisa mencapai 4 kilogram. Nama kakapo berasal dari bahasa Māori yang berarti “burung nuri malam”, sesuai kebiasaannya yang aktif mencari makan sepanjang malam dan bersembunyi di lantai hutan pada siang hari.

Menurut Daftar Merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), kakapo berstatus kritis terancam punah (critically endangered), kategori tertinggi sebelum sebuah spesies dinyatakan punah di alam liar. Populasi kakapo saat ini hanya bertahan berkat pengelolaan intensif manusia di sejumlah pulau bebas predator, jauh berbeda dari kondisi aslinya ketika burung ini pernah tersebar luas di seluruh daratan Selandia Baru.
Fakta dan Keunikan Biologi Kakapo
Karena tidak bisa terbang, kakapo mengandalkan kaki yang kuat untuk berjalan jauh dan memanjat pohon, lalu meluncur turun dengan bantuan sayapnya yang pendek layaknya parasut. Bulunya berwarna hijau lumut berbintik kuning dan cokelat, corak yang berfungsi sebagai kamuflase sempurna di lantai hutan Selandia Baru pada masa ketika predator alaminya hanya berupa burung pemangsa dari udara.

Kakapo juga memiliki wajah menyerupai burung hantu lengkap dengan kumis sensorik di sekitar paruh, sehingga kadang dijuluki owl parrot. Indra penciumannya termasuk yang paling tajam di antara jenis burung, kemampuan yang digunakan untuk melacak sumber pangan di kegelapan malam.

Kakapo termasuk burung dengan usia hidup terpanjang di dunia. Umurnya diperkirakan bisa mencapai 60 hingga 80 tahun, jauh melampaui rata-rata umur burung pada umumnya. Sebagai herbivora, kakapo memakan berbagai jenis buah, biji, akar, kulit kayu, lumut, dan tunas tumbuhan asli Selandia Baru, dengan buah pohon rimu sebagai salah satu sumber pangan terpentingnya, terutama menjelang musim kawin.
Pola reproduksi kakapo tergolong tidak biasa di dunia burung.

Kakapo hanya berkembang biak setiap dua hingga empat tahun, mengikuti siklus pembuahan buah rimu yang hanya berbuah lebat pada tahun-tahun tertentu, sebuah fenomena yang dikenal sebagai masting. Di luar musim itu, kakapo praktis tidak kawin sama sekali, sehingga populasinya sangat sulit bertambah cepat dibandingkan spesies burung lain yang bisa berkembang biak setiap tahun.

Saat musim kawin tiba, burung jantan berkumpul di area yang disebut lek untuk menarik perhatian betina. Mereka duduk di cekungan tanah yang digali sendiri, lalu mengeluarkan suara dengungan khas dari kantung udara di dada yang dapat terdengar hingga jarak 5 kilometer, mirip suara senar cello yang dipetik lembut. Proses ini bisa berlangsung berjam-jam setiap malam selama berminggu-minggu.

Setelah memilih pasangan dan kawin, betina bertelur satu hingga empat butir yang dierami selama sekitar 30 hari, dan sepenuhnya bertanggung jawab merawat telur maupun anak yang menetas selama sekitar enam bulan tanpa bantuan jantan sama sekali. Jantan tidak terlibat dalam pengasuhan anak setelah proses perkawinan selesai.

Hampir Punah dan Upaya Pemulihan yang Masih Berlangsung
Kakapo dulunya tersebar luas hampir di seluruh daratan Selandia Baru dan hidup tanpa ancaman berarti, karena negara itu pada awalnya tidak memiliki mamalia darat asli. Keadaan berubah drastis setelah manusia membawa predator seperti kucing dan cerpelai (stoat) ke Selandia Baru, mengikuti gelombang migrasi manusia dan kolonisasi Eropa.

Kakapo yang tidak bisa terbang dan cenderung diam saat merasa terancam, alih-alih melarikan diri, menjadi target mudah bagi predator baru tersebut. Populasinya anjlok begitu cepat sehingga pada awal abad ke-20 spesies ini nyaris punah, dan sempat dikira telah lenyap sepenuhnya dari alam liar sebelum sejumlah individu ditemukan kembali di kawasan terpencil Fiordland dan Pulau Stewart pada pertengahan abad ke-20.

Program penyelamatan kakapo baru dimulai secara serius pada 1995, ketika jumlah burung yang tersisa hanya 51 ekor. Sejak saat itu, seluruh individu kakapo yang berhasil ditemukan dipindahkan ke pulau-pulau kecil bebas predator, tempat mereka dijaga ketat oleh Departemen Konservasi Selandia Baru (Department of Conservation/DOC).

Salah satu pulau utama dalam program ini adalah Whenua Hou (Codfish Island), pulau seluas 14 kilometer persegi di lepas pantai Pulau Selatan yang dinyatakan bebas dari posum dan tikus sejak 1998 dan kini menjadi rumah bagi sebagian besar populasi pembiakan kakapo. Setiap kakapo dilengkapi alat pelacak radio, dipantau secara individual, dan mendapat pakan tambahan pada musim kawin untuk meningkatkan peluang bertelur dan kelangsungan hidup anak burung.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *