Promosi Terintegrasi Jadi Kunci Penguatan Pariwisata Wonosobo

WONOSOBO – Pengelolaan pariwisata yang profesional, aman, berkelanjutan, dan didukung strategi promosi yang terintegrasi dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat Wonosobo. Hal tersebut mengemuka dalam Sarasehan Tata Kelola Pariwisata sekaligus Pelantikan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Omah Wisata Kabupaten Wonosobo Masa Tugas 2025–2028, yang digelar di Pendopo Selatan Kabupaten Wonosobo, Kamis (3/9/2026).

Sebanyak 40 pengurus BPPD Omah Wisata Kabupaten Wonosobo dilantik, terdiri atas empat unsur penasehat dan 36 unsur pelaksana. Andra Bharada dipercaya sebagai Ketua BPPD Omah Wisata Kabupaten Wonosobo untuk masa tugas 2025–2028.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menegaskan bahwa pariwisata merupakan salah satu kekuatan strategis daerah yang tidak hanya berkaitan dengan keberadaan destinasi, tetapi juga menyangkut bagaimana kekayaan alam, budaya, kreativitas, serta keramahan masyarakat dikelola sehingga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan daerah.

“Destinasi harus dikelola dengan baik, pelayanan berkualitas, informasi mudah diperoleh, dan pengalaman wisatawan semakin baik,” tegasnya.

Menurutnya, Wonosobo memiliki modal pariwisata yang sangat kuat, mulai dari Dieng, Wadaslintang, pegunungan, telaga, air terjun, desa wisata, seni budaya, tradisi, kuliner, ekonomi kreatif, hingga keramahan masyarakat. Namun, kekayaan tersebut perlu dikelola dan dikemas secara lebih profesional agar mampu menjawab perubahan perilaku wisatawan.

Wisatawan saat ini, lanjutnya, tidak hanya mempertimbangkan keindahan destinasi, tetapi juga faktor keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, kualitas pelayanan, kemudahan memperoleh informasi, keaslian pengalaman, hingga tingkat kepercayaan terhadap destinasi di ruang digital turut menentukan keputusan wisatawan.

Karena itu, keberhasilan pembangunan pariwisata tidak cukup hanya dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan. Indikator yang tidak kalah penting adalah lama tinggal wisatawan, besarnya belanja yang berputar di daerah, kualitas pengalaman wisatawan, serta manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat lokal.

“Pariwisata harus menjadi penggerak ekonomi daerah. Kehadiran wisatawan harus membuka peluang bagi petani, UMKM, kuliner, transportasi, perdagangan, ekonomi kreatif, seni budaya, industri rumah tangga, dan berbagai usaha masyarakat lainnya,” ujarnya.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Wonosobo juga membuka ruang bagi investasi yang mampu memperkuat ekosistem pariwisata, menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah. Dengan ekosistem yang semakin kuat, pertumbuhan pariwisata diharapkan tidak hanya meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat perekonomian daerah dan berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Selain itu, Afif juga menekankan pentingnya pembenahan tata kelola pariwisata agar semakin transparan, terstandar, profesional, dan berkelanjutan.

Aspek kebersihan, keamanan, kenyamanan, pelayanan, keterbukaan informasi, dan kapasitas pengelola perlu terus diperkuat dengan tetap menjaga lingkungan, ekosistem, sumber daya air, serta karakter sosial dan budaya masyarakat.

“Integritas, transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme harus menjadi cara kita bekerja,” tegasnya.

Ia juga menilai strategi pemasaran pariwisata harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Saat ini wisatawan banyak menentukan pilihan melalui media sosial, mesin pencarian, video, ulasan, dan berbagai platform digital.

Oleh karena itu, promosi pariwisata tidak cukup hanya menyampaikan informasi bahwa Wonosobo memiliki destinasi wisata. Promosi harus mampu membangun ketertarikan, kepercayaan, dan keputusan wisatawan untuk datang.

Dalam konteks tersebut, BPPD Omah Wisata diharapkan tidak berhenti pada kegiatan promosi, tetapi mampu mengambil peran strategis sebagai ruang berpikir sekaligus motor pemasaran pariwisata Wonosobo.

BPPD diharapkan mampu membaca tren wisatawan, menentukan segmen pasar, serta membangun jejaring dengan biro perjalanan, platform digital, hotel, komunitas, media, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Penguatan paket wisata, storytelling destinasi, kalender event, serta keterhubungan antara destinasi, UMKM, dan ekonomi kreatif juga dinilai penting untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih utuh.

“Brand pariwisata Wonosobo harus kuat dan konsisten. Bukan hanya dikenal karena sunrise di Dieng, tetapi juga karena alam, budaya, kuliner, petualangan, dan kehidupan masyarakatnya yang autentik,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *