TRAVELNESIA, JAKARTA- South Sandwhich Islands membentuk kepulauan terisolasi berbentuk bulan sabit yang terdiri atas batu dan es. Pulau paling utara yang terjal, Pulau Zavodovski, merupakan tempat penguin chinstrap dan macaroni menutupi lereng bukit. Pulau tersebut memegang gelar sebagai koloni penguin terbesar di Bumi.
“Namun, penguin chinstrap mulai menghadapi penurunan tajam di seluruh Semenanjung Antarktika mulai tahun 1980-an. Para ilmuwan bertanya-tanya apakah pulau terpencil ini bernasib lebih baik,” tulis Avery Schuyler Nunn di laman National Geographic.
Peneliti melakukan analisis yang menggabungkan survei drone udara dan penghitungan populasi manual. Peneliti dari British Antarctic Survey (BAS) menemukan bahwa dalam waktu kurang dari 15 tahun, populasi penguin chinstrap di pulau itu anjlok sebesar 63 persen. Pulau itu kehilangan lebih dari setengah juta penguin.
Penelitian tersebut bertajuk “Population declines and changes in community composition at the world’s largest penguin colony”.
Tim peneliti mengidentifikasi pulau itu sebagai rumah bagi populasi penguin chinstrap yang mengalami penurunan tercepat di dunia. Penurunan ini menghapus lebih dari seperempat total populasi penguin di Zavodovski. Akibatnya, gelar koloni penguin terbesar di dunia harus “diserahkan” kepada Cape Adare di Laut Ross Antarktika.
“Kehilangan 63 persen dalam 15 tahun berarti lebih dari setengah juta sarang hilang. Bayangkan kehilangan 60 persen dari seluruh populasi suatu negara dalam jangka waktu tersebut. Hal ini benar-benar mengkhawatirkan,” kata Lucas Krüger García. García adalah ilmuwan kutub dan ahli ekologi burung laut untuk pusat penelitian Chili. “Fakta bahwa koloni tunggal ini mewakili 30 persen dari populasi penguin chinstrap global membuatnya semakin mengkhawatirkan.”
Southern Ocean bukanlah hal yang asing bagi kehilangan. Berita ini datang hanya 6 bulan setelah penguin kaisar dan anjing laut bulu Antarktika secara resmi dinyatakan terancam punah. Penurunan tingkat es laut disebut sebagai penyebab utama kepunahan kedua hewan itu.
Bertindak sebagai penyangga iklim utama Bumi, Southern Ocean menyerap hampir tiga perempat pemanasan laut global. Serta menyerap seperlima karbon buatan manusia.
Di bawah permukaan, perairan menengah yang hangat mencairkan landasan kontinental. Sementara itu, lapisan laut yang lebih dalam di Laut Weddell Antarktika juga menghangat. Lapisan itu menghangat hingga lima kali lebih cepat daripada rata-rata laut global pada kedalaman yang setara. Faktor-faktor tersebut menghancurkan platform beku yang menopang kehidupan laut Antarktika.
Makanan utama penguin chinstrap adalah krustasea kecil yang disebut krill. Hal ini membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan ekosistem mereka. Pasalnya, kenaikan suhu secara fundamental mengubah habitat mereka dari salju dan es menjadi batuan gundul. Krill bergantung pada es laut untuk makanan dan tempat berlindung. Dan hanya satu derajat pemanasan saja dapat mengganggu keseimbangan yang rapuh ini. Pada akhirny menyebabkan kekurangan krill yang parah.
“Southern Ocean berubah dengan cepat, lebih cepat saat ini daripada di tempat lain di planet ini,” kata Peter Fretwell. Fretwell adalah seorang ahli penginderaan jauh untuk BAS dan salah satu penulis studi tersebut. “Apa yang kita lihat di Antarktika sekarang adalah peringatan dini tentang apa yang akan terjadi di seluruh dunia.”
Pada Desember 2023, rekan-rekan Fretwell dari BAS berlayar ke beberapa perairan paling ganas di dunia. Tujuannya adalah untuk mempelajari koloni penguin. Para ilmuwan tiba di Zavodovski setelah 15 hari menavigasi lautan yang ganas. Sumber: national geografhic






