TRAVELNESIA, JAKARTA- Pada akhir September 2026, api menjilat hanya 4,5 meter dari pangkal pohon sengon yang ramping. Kulit kayunya yang putih mulai menghitam karena asap dan abu. Seekor orangutan muda berpegangan pada cabang-cabangnya yang tipis. Hewan malang itu mencoba melarikan diri dari kebakaran hutan yang parah di Kalimantan yang terjadi sejak Juli.
“Suara gemuruh dan deru api adalah suara bencana,” kata Jamartin Sihite. Sihite adalah seorang ahli ekologi konservasi dari Borneo Orangutan Survival Foundation. Ia berada di sana bersama tim dokter hewan, petugas pemadam kebakaran, dan sukarelawan lainnya yang mencoba menyelamatkan orangutan tersebut.
Atmosfer tampak hampa udara, digantikan oleh asap tebal yang menyesakkan—mustahil untuk melihat sekaligus bernapas.
Fenomena El Niño yang sangat kuat musim ini telah memperburuk kebakaran hutan. Kebakaran hutan menciptakan prospek suram bagi Indonesia dan orangutan yang terancam punah. Sekitar 2 juta hektar lahan telah terbakar di Indonesia selama tahun 2026. Lebih dari 1.700 kematian manusia disebabkan oleh asap kebakaran.
Kebakaran aktif saat ini meliputi lebih dari setengah dari seluruh habitat orangutan. Termasuk titik-titik penting keanekaragaman hayati dan benteng orangutan seperti Taman Nasional Gunung Palung di Kalimantan. Orangutan yang terancam punah ini kehabisan tempat untuk berlindung.
“Kita pernah mengalami kebakaran di masa lalu, tetapi tidak ada yang separah ini,” kata Cheryl Knott. Knott adalah seorang antropolog di Boston University yang mempelajari orangutan sejak awal tahun 1990-an.
Suhu tinggi dan kekeringan berkepanjangan mengeringkan lapisan gambut tebal yang terletak di dasar hutan hujan rawa. Gambut tersebut menjadi bahan bakar yang, setelah terbakar, sulit dipadamkan. Gambut dapat membara di bawah tanah, bahkan setelah api di permukaan padam.
“Jika kebakaran terus berlanjut, terutama di hutan hujan primer, hal itu mengancam prospek kelangsungan hidup spesies dalam jangka panjang,” Knott memperingatkan.
Tim Sihite menerima informasi dari penduduk setempat yang melihat seekor orangutan berkeliaran dalam keadaan linglung. Pada saat ambulans dan tim pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian, orangutan tersebut telah menghilang.
Mereka menggunakan drone untuk memindai area tersebut dan akhirnya menemukan orangutan itu di pohon sengon. Tetapi pohon itu dikelilingi api, dan mereka tidak dapat memadamkan api sebelum malam tiba.
“Bayangkan, Anda terjebak di pohon, dan di sekitarnya ada api dan asap,” kata Sihite. “Itu menakutkan dan membuat stres.”






