TRAVELNESIA, JAKARTA- Jika kita bicara tentang spesies kucing besar (big cats) yang ada di Indonesia, apa yang pertama kali terlintas di benak? Mungkin sebagian dari kita akan teringat pada harimau Sumatera, sang predator yang kerap menjadi simbol satwa liar asli Indonesia. Masyarakat umum mengenal satwa ini dengan beragam julukan, diantaranya adalah maung, datok, dan juga macan. Spesifik kepada istilah yang terakhir, agaknya tak jarang kita mendengar masyarakat menggunakan istilah macan untuk merujuk pada harimau. Walau sesungguhnya, harimau dan macan adalah dua spesies satwa yang berbeda.
Secara umum, harimau (Panthera tigris) adalah jenis kucing besar yang secara visual dapat dikenali dari tubuhnya yang berwarna oranye dan memiliki loreng kehitaman. Sementara itu, macan (Panthera pardus) adalah kucing besar yang memiliki warna tubuh kuning kecoklatan (terkadang kehitaman dan disebut macan kumbang), disertai dengan tubuh yang dipenuhi dengan totol. Secara spesifik, Indonesia memiliki spesies macan tutul yang berada di pulau Jawa, dengan nama macan tutul Jawa (Panthera pardus melas).
Meskipun keduanya adalah satwa yang sangat berbeda, tak dapat dipungkiri bahwa sosok macan tutul Jawa dapat dikatakan masih kurang dikenal bila dibandingkan dengan harimau Sumatera. Fakta yang sangat disayangkan, mengingat macan tutul Jawa adalah predator puncak terakhir yang ada di pulau Jawa. Sebagai predator puncak, macan tutul Jawa berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengendalikan populasi satwa liar lain yang ada di alam sebagai mangsanya. Ketika alam tetap seimbang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh satwa liar tetapi juga oleh kita para manusia.
Meskipun memiliki peran yang sangat penting, populasi macan tutul Jawa kini kian terancam, dan dinyatakan sebagai spesies terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Tak perlu dipertanyakan lagi, melestarikan keberadaan macan tutul Jawa adalah sebuah prioritas dalam dunia konservasi. Namun, bagaimana caranya kita dapat menjaga sesuatu bila kita tidak mengenalnya?
Java-Wide Leopard Survey
Salah satu upaya pelestarian macan tutul Jawa dilakukan dengan melakukan pendataan populasi mereka di alam, melalui program bernama Java-Wide Leopard Survey (JWLS) atau Survei Macan Tutul Se-Pulau Jawa. Program ini adalah inisiatif bersama antara Kementerian Kehutanan, Yayasan SINTAS Indonesia, dan Djarum Foundation pada tahun 2024. Dalam pelaksanaannya, inisiatif yang dipimpin oleh Kementerian Kehutanan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat lokal, serta media nasional
Pendataan populasi macan tutul Jawa ini dilakukan dengan pemasangan camera trap atau kamera pengintai, yaitu kamera khusus yang dilengkapi dengan sensor gerak sehingga mampu mendeteksi pergerakan satwa dan menangkap gambar atau merekam video satwa tersebut. Hingga kini, kamera pengintai telah dipasang pada 1200 stasiun di seluruh Jawa yang meliputi 5 taman nasional: Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Taman Nasional Gunung Ciremai, Taman Nasional Gunung Merapi, Taman Nasional Gunung Merbabu, dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.






