Kulonprogo Tidak Cocok untuk Slow Living

TRAVELNESIA, KULONPROGO- Menjadi perbincangan banyak orang kalau Kulonprogo adalah daerah tertinggal. Membaca data kabupaten ini menjadi termiskin di Jogja. Kulonprogo atau KP sejak dahulu kala menjadi kota “nanggung” yang industri bukan kota jasa bukan.
Adalah Riko Prihandoyo warga Kulonprogo yang belum lama ini menjelaskan secara gamblang melalui tulisannya. Kulonprogo bukan kota idaman apalagi ideal. Untuk hidup menepi dari hiruk pikuk dunia atau slow living.
Berikut simaklah tulisannya…
Kenyataan yang terjadi di Kulon Progo
Slow living sering dibayangkan sebagai hidup santai tanpa tekanan. Namun, realitasnya, hidup santai membutuhkan kondisi stabil: penghasilan aman dan rasa tenang bahwa kebutuhan dasar tercukupi.
Jika penghasilan berkali-kali lipat dari UMR, mungkin Kulon Progo terasa ideal. Hidup bisa dinikmati tanpa terburu-buru. Tapi bagi banyak orang, hidup pelan berubah menjadi hidup yang serba ditahan. Mereka mengatur pengeluaran, menunda kebutuhan, dan terus berpikir bagaimana bertahan di tengah pilihan yang terbatas. Dan, itu jelas bukan slow living.
Tulisan yang melihat sisi indah Kulon Progo tidak salah memang. Tapi, jika sisi itu dijadikan gambaran umum, masalahnya jadi pelik. Dan, bukan tidak mungkin mengaburkan persoalan-persoalan yang nyata terjadi di daerah ini. Sebagai warlok, saya bisa bilang kalau tempat ini bukan hanya tentang ketenangan, tapi juga tentang keterbatasan.
Di Lapangan, tidak semua warga lokal punya kesempatan untuk bergerak lebih cepat. Jadi ketika Kulon Progo disebut sebagai tempat terbaik untuk slow living, pernyataan itu perlu dikoreksi. Kulon Progo memang bisa menjadi tempat untuk melambat, tapi hanya bagi mereka yang punya pilihan untuk pelan. Bagi yang tidak, itu bukan slow living, itu hanya hidup yang kebetulan berjalan tanpa banyak pilihan.
Mengutip data yang dirilis Suara Merdeka pada 15 Oktober 2026, Kabupaten Kulonprogo saat ini menjadi daerah termiskin di Jogja. Kabupaten ini akan mengalami kesulitan mengentaskan diri ditengah situasi ekonomi dan tidak adanya progam unggulan yang digarap secara masif.
Dari total 87 desa dan satu kelurahan di Kulon Progo, 22 di antaranya memiliki topografi lereng dan ada 10 desa yang berada di tepi pantai. Di kampung-kampung nelayan, kemiskinan antara lain disebabkan oleh minimnya kapasitas sumber daya manusia, kurangnya kepemilikan modal, dan tidak mumpuni dalam penguasaan teknologi.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *