Kapan Sebaiknya Minum Kopi agar Lebih Fokus dan Tidak Mudah Lelah?

TRAVELNESIA, BANDUNG- Sudahkah Anda menikmati secangkir kopi hari ini? Bagi banyak orang, minum kopi pada pagi hari sudah menjadi rutinitas. Entah itu kopi tubruk yang diseduh sendiri sendiri di rumah atau caffe latte dari kedai kopi favorit. Kandungan kafein di dalamnya kerap diandalkan untuk mengusir kantuk dan membantu menjaga konsentrasi saat bekerja atau beraktivitas.

Namun, minum kopi bukan sekadar soal kebiasaan. Waktu konsumsinya juga bisa memengaruhi efek kafein yang dirasakan tubuh. Respons setiap orang berbeda, bergantung pada usia, metabolisme, dan toleransi terhadap kafein. Lantas, kapan waktu terbaik untuk minum kopi agar manfaatnya lebih optimal?

Apa efek kopi bagi tubuh?

Kopi mengandung kafein, zat stimulan yang juga ditemukan dalam teh, soda, dan cokelat. Kafein membantu tubuh tetap terjaga dengan menghambat kerja adenosin, senyawa alami yang terus menumpuk di otak selama seseorang terjaga.

Adenosin turut berperan dalam munculnya rasa kantuk pada pagi hari, yang dikenal sebagai sleep inertia. Meski begitu, kondisi ini juga dipengaruhi faktor lain, seperti kualitas tidur. Seiring berjalannya waktu, penumpukan adenosin membuat tubuh semakin lelah sekaligus mengirimkan sinyal ke otak bahwa waktu tidur semakin dekat.

Karena struktur kimia kafein mirip dengan adenosin, kafein dapat menempati reseptor yang sama di otak. Ketika kafein berikatan dengan reseptor tersebut, zat ini menghalangi adenosin menjalankan fungsinya. Akibatnya, otak menerima lebih sedikit sinyal yang membuat kita merasa lelah sehingga kita menjadi lebih terjaga, waspada, dan berenergi.

“Namun, sensasi energi yang dirasakan ini ada harganya,” kata Dustin Lee, asisten profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Johns Hopkins, seperti dilansir dari laman Popular Science.

Otak sangat mampu menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Seiring waktu, otak akan memproduksi lebih banyak reseptor adenosin.

Semakin banyak reseptor yang dimiliki otak, semakin banyak pula kafein yang dibutuhkan agar kita merasa waspada. Kondisi ini pada akhirnya dapat menyebabkan toleransi terhadap kafein dan gejala putus kafein.

“Gejala putus kafein, yang saya yakin sebagian besar dari kita pernah mengalaminya, meliputi sakit kepala, mudah tersinggung, kelelahan, dan kesulitan berkonsentrasi,” jelas Lee.

Jika Anda ingin berhenti mengonsumsi kafein atau melewatkan secangkir kopi yang biasa diminum, kemungkinan besar gejala tersebut akan segera muncul. Gejalanya biasanya mulai terasa dalam 12–24 jam setelah berhenti mengonsumsi kafein, mencapai puncaknya dalam 48 jam, lalu mereda dalam waktu dua hingga sembilan hari.

Waktu minum kopi dapat memengaruhi seberapa optimal tubuh merasakan efek kafein. Namun, tidak ada waktu yang paling tepat untuk semua orang karena respons tubuh terhadap kafein berbeda-beda.

“Tidak ada jawaban pasti yang berlaku untuk semua orang,” kata Marie-Pierre St-Onge, profesor kedokteran gizi di Columbia University Medical Center, seperti dikutip dari laman Popular Science.

Waktu terbaik untuk minum kopi bergantung pada usia, metabolisme, dan toleransi seseorang terhadap kafein.

“Penyerapan kafein mencapai puncaknya dengan cepat, sekitar 30–60 menit setelah dikonsumsi,” kata Lee.

Karena itu, jawaban sederhana untuk menentukan waktu minum kopi adalah sekitar satu jam sebelum melakukan aktivitas yang bisa terbantu oleh efek stimulan kafein.

Sebagai contoh, jika Anda berencana berlari, St-Onge menyarankan untuk mengonsumsi kafein sebelum mulai berlari. Inilah salah satu alasan penggunaannya dibatasi oleh sejumlah organisasi olahraga, seperti National Collegiate Athletic Association.

Menurut St-Onge, Anda sebenarnya tidak perlu mengonsumsi kafein tepat setelah bangun tidur karena tubuh seharusnya sudah berada dalam kondisi terjaga.

“Jika Anda mulai merasa lesu beberapa jam setelah bangun tidur, itulah waktu yang tepat untuk minum kopi,” katanya.

Tidak ada waktu yang cocok untuk semua orang

Lee dan St-Onge sama-sama menekankan bahwa waktu terbaik untuk minum kopi sangat bergantung pada kondisi setiap individu.

Kemampuan tubuh untuk memetabolisme kafein melambat seiring bertambahnya usia. Akibatnya, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk membersihkan kafein dari aliran darah ketika seseorang semakin tua.

Ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun, juga berubah seiring bertambahnya usia. Perubahan ini dapat membuat seseorang merasa mengantuk lebih awal pada siang atau sore hari.

“Jika perubahan-perubahan ini terjadi secara bersamaan, Anda sebaiknya mengonsumsi kafein lebih awal seiring bertambahnya usia,” jelas St-Onge.

“Jumlah kafein yang dikonsumsi sama pentingnya dengan waktu Anda meminum secangkir kopi,” tambah Lee.

Kandungan kafein dalam secangkir kopi sebenarnya bisa sangat bervariasi. Jumlahnya bergantung pada perbandingan kopi dan air, metode penyeduhan, bahkan jenis biji kopi yang digunakan.

Lee juga menjelaskan bahwa toleransi tubuh terhadap kafein sangat memengaruhi efek yang dirasakan seseorang. Bagi orang yang rutin minum kopi, secangkir kopi pertama pada pagi hari belum tentu memberikan tambahan energi seperti yang diharapkan. Sebaliknya, kopi tersebut mungkin lebih berperan dalam meredakan sebagian gejala putus kafein akibat tubuh tidak mendapatkan asupan kafein selama semalaman.

Dengan kata lain, rasa lebih segar setelah minum kopi pada pagi hari bisa jadi bukan semata-mata karena efek stimulan kafein, melainkan juga karena berkurangnya gejala akibat tidak mengonsumsi kafein sejak hari sebelumnya. Faktor toleransi ini perlu dipertimbangkan ketika menilai seberapa besar manfaat kopi bagi tubuh.

Kapan sebaiknya tidak minum kopi?

St-Onge menyarankan agar kopi tidak dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur. Jika Anda mengalami kesulitan untuk terlelap, sebaiknya hindari minum kopi terlalu sore.

Minum kopi saat perut kosong juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi sebagian orang, seperti meningkatkan kegelisahan dan keinginan untuk buang air kecil. Meski demikian, anggapan bahwa kebiasaan ini dapat menyebabkan tukak lambung merupakan mitos.

Bagi Anda yang memiliki lambung sensitif, mengonsumsi makanan bersamaan dengan kopi bisa menjadi pilihan untuk mengurangi risiko ketidaknyamanan.

Lee juga mengingatkan pentingnya membatasi asupan kafein harian. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), konsumsi hingga 400 miligram kafein per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif pada sebagian besar orang dewasa yang sehat. Jumlah tersebut setara dengan sekitar dua hingga tiga cangkir kopi berukuran 12 fluid ounce atau sekitar 355 mililiter per cangkir.

Pada akhirnya, Anda tidak perlu terlalu khawatir menentukan waktu minum kopi. Hal terpenting adalah menghindari konsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur dan tidak mengonsumsinya secara berlebihan agar risiko gangguan tidur serta ketergantungan terhadap kafein dapat diminimalkan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *