Cerita Kota dan Cinta dalam Kue Ku

TRAVELNESIA, LASEM- “Zaman dulu ya, di Lasem bikin kue kuro atau kue ku ya pakai cetakan kayu,” kata Tan Tjoe Nio. “Pas ngeluarin kuenya dari cetakan kan harus dibenturkan ke meja, dan bunyinya tok gitu, kan. Jadi orang nyebutnya kue tok.”

Mak Tjoe, sapaan akrab perempuan ini, merupakan salah seorang juru masak tenar untuk menu Tionghoa Lasem. Orang-orang mengenalnya sebagai peracik kawakan untuk beragam kudapan peranakan sebagai pelengkap sembahyang. Ada kue moho, kue picis, kue biko, kue apem, onde-onde, dan kue ku.

Bacaan Lainnya

Kudapan mungil ini biasanya berwarna merah mengilat beralaskan daun pisang. Namun, wajah bisa beragam, ada orang yang membuatnya seperti karapas kura-kura, bunga, atau bercap aksara Tionghoa. Kue ini menjadi bagian tradisi kue nyonya di Indonesia dan Semenan – jung Malaya, yang hadir melalui proses perjumpaan budaya dan rasa yang panjang.

Di balik warna merah dan lembutnya kacang hijau tumbuk, kue ku merekam perjalanan panjang dari Tiongkok Selatan hingga ke dapur-dapur keluarga Tionghoa di Nusantara. Jadi, kudapan ini bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga tentang perjalanan manusia dan interaksi budaya.

Secara historis, kue ku berasal dari wilayah Tiongkok Selatan—khususnya Fujian dan Guangdong—daerah asal mayoritas perantau Tionghoa yang datang ke Asia Tenggara setidaknya sejak abad ke-14.

Dalam tradisi Hokkian dan Teochew, kue ini dikenal sebagai ang ku kueh, yang berarti “kue kura-kura merah”. Di Tiongkok Selatan dan Taiwan, isiannya bisa manis atau gurih. Masyarakat berbahasa Hakka mengenalnya sebagai “hong ban” atau “hong yin ban”.

Bentuk kura-kura, dalam tradisi Tionghoa, simbol umur panjang. Mereka menggunakannya untuk memohon berkah keberuntungan, kemakmuran, umur panjang, dan kelimpahan keturunan. Warna merah simbol kebahagiaan, rezeki, dan perlindungan.

Bentuk dan warnanya menjadikan kue ku sebagai sajian wajib dalam berbagai ritus kehidupan—kelahiran, ulang tahun, sembahyang leluhur, perayaan besar hingga sembahyang ulang tahun (sejit) para dewa dan dewi.

Gelombang migrasi Tionghoa tiba di Nusantara melalui pelabuhan-pelabuhan di pesisir Jawa, Sunda Kecil, Sumatra, dan Kalimantan. Kue ku turut berlayar, menyesuaikan diri dengan bahan dan selera lokal.

Dari Ritual ke Meja Bersama

Pada era 1970-an sampai 1990-an banyak warga Tionghoa yang masih bermukim di Lasem, kenang Mak Tjoe. Mereka mengikutkan kue ku dan kue lainnya sebagai bagian sembahyang, selain menghadirkan kue-kue itu sebagai kudapan keluarga.

“Zaman itu, kue ku utamanya buat sembahyang, juga kalau ada hajatan, atau selamatan karena lambang panjang umur dan rejeki, merahnya punya arti bahagia, isinya manis ya kehidupan biar manis tenteram,” ujarnya. “Dulu malah jarang dijual sebagai jajanan. Kalau buat sembahyang di klenteng itu ada yang besar ukurannya. Selesai sembahyang, kuenya bisa dimakan kita semua.”

Dalam cerita-cerita lisan Lasem, kue ku hadir dalam perayaan kelenteng dan tradisi keluarga sejak ratusan tahun. Di dapur-dapur rumah tua Lasem, perempuan-perempuan lintas generasi masih mencetak kue ku dengan cetakan kayu tua.

Ilmu pembuatan kue ku kerap berpindah dari seorang nyonya rumah kepada asisten rumah tangganya. Kue ini menjadi kesukaan masyarakat. Pertanda bahwa kue tak lagi melulu soal otentisitas tetapi juga tentang dinamika warisan budaya takbenda.

Cetakan Kayu

Salah satu aspek paling menarik dari kue ku adalah cetakan kayunya. Biasanya dibuat dari kayu keras, diukir dengan motif kura-kura, buah persik, bunga teratai, ikan, aksara Han bermakna keberuntungan, atau simbol panjang umur. Biasanya, sisi pinggir cetakan itu terdapat cetakan uang kepeng berjajar perlambang kesejahteraan.

Dari alasan praktis, cetakan kayu memiliki keunggulan karena tidak menghantarkan panas. Selain itu juga menyerap lembabnya adonan sehingga hasil cetakan lebih tajam. Cetakan beragam hias ini merupakan karya tangan-tangan perajin yang tak dikenal namanya, namun pendukung utama tradisi kuliner.

Kini, cetakan dan para perajinnya menghilang. Banyak cetakan itu yang sudah berpindah keluar kota, bahkan keluar negeri. Beruntung, Yayasan Lasem Heritage me – nyimpan sepuluh cetakan kue ku yang berasal dari rumah-rumah kuno di Lasem. Sumber: National Geographic

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *