Tahu Dinobatkan sebagai Sumber Protein Paling Ramah Lingkungan

TRAVELNESIA, JAKARTA—Ada banyak makanan berprotein yang biasa diperjualbelikan di pasar-pasar Indonesia atau bahkan sudah terhidang di etalase rumah-rumah makan. Ada yang kaya akan protein hewani, ada pula yang kaya akan protein nabati.

Mana yang sebaiknya kita pilih? Jawabannya adalah tergantung pada pertimbangan kita.

Bacaan Lainnya

Pertanyaan “Apa sumber protein terbaik?” menjadi rumit karena adanya dampak kesehatan dan dampak lingkungan tersembunyi yang signifikan dari berbagai pilihan populer makanan berprotein saat ini.

Sebuah studi baru yang terbit di jurnal Frontiers in Sustainable Food Systems pada 29 Juli 2026 memberikan perspektif menarik untuk mempertimbangkan pilihan makanan tersebut.

Studi itu bertajuk “What are the best sources of protein? Introducing the BPI Score” dan disusun oleh Chris Macdonald, peneliti dari University of Cambridge.

Macdoanald mengatakan dalam makalah studinya itu memperkenalkan BPI Score, sebuah sistem penilaian multidimensi baru yang dirancang untuk memberikan jawaban yang lebih komprehensif untuk pertimbangan pemilihan makanan.

“Tujuannya bukan sekadar menambah label baru pada kemasan produk, melainkan membangun literasi baru yang memberdayakan konsumen, pembuat kebijakan, dan berbagai organisasi untuk mengambil keputusan dengan informasi yang lebih lengkap,” tulis Macdonald dalam makalah studi tersebut.

Versi awal (V1) dari BPI Score digunakan untuk mengevaluasi 20 produk berprotein tinggi berdasarkan dua kategori utama: manusia dan planet.

Planet Score menilai dampak lingkungan menggunakan data emisi gas rumah kaca, polusi air, dan penggunaan sumber daya. Sementara itu, People Score mempertimbangkan faktor kesehatan—seperti kandungan natrium dan lemak jenuh—serta metrik aksesibilitas, termasuk keterjangkauan dan ketersediaan.

Hasilnya, tahu menempati posisi dengan skor tertinggi dalam Planet Score. Itu artinya, tahu merupakan sumber protein yang paling ramah lingkungan atau berdampak paling minimal terhadap lingkungan.

“Kelompok produk dengan skor tertinggi seluruhnya terdiri dari protein nabati, sementara kelompok dengan skor terendah seluruhnya terdiri dari protein hewani,” jelas Macdonald.

Penilaian skor ini antara lain didasarkan pada perhitungan jumlah emisi/polusi yang dihasilkan serta penggunaan sumber daya dalam rantai proses pembuatan produk tersebut. Sumber: Nationalgeographic.co.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *