TRAVELNESIA, WONOSOBO – Pesona wisata matahari terbit di kawasan Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, kini tidak hanya bertumpu pada Bukit Sikunir. Jalur pendakian Gunung Pakuwaja melalui Desa Sembungan mulai ramai dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati panorama golden sunrise dengan suasana yang lebih nyaman dan tidak terlalu padat.
Ketua Pokdarwis Cebong Sikunir, Ngaezudin, mengatakan jalur menuju Gunung Pakuwaja selama beberapa bulan terakhir terus ditata dan dibenahi agar semakin nyaman bagi wisatawan.
“Pakuwaja ini sangat eksotis. Letaknya di sebelah utara Bukit Sikunir, atau di sebelah kiri ketika kita melakukan tracking menuju Sikunir. Dengan ketinggian sekitar 2.421 meter di atas permukaan laut, tempat ini sangat strategis untuk menikmati golden sunrise,” ujar Ngaezudin.
Menurutnya, panorama dari puncak Pakuwaja memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan Sikunir. Wisatawan tetap dapat menikmati matahari terbit dengan latar pegunungan dan lautan awan, namun dengan keunggulan jumlah pengunjung yang belum terlalu berjubel.
Kang Ghofur, salah satu pengelola yang sehari-hari mengatur anggota piket di basecamp Pakuwaja, menyebut fasilitas di kawasan tersebut terus dipersiapkan untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan.
“Kalau di sini tersedia parkir yang sangat luas di depan gedung bank sampah, mushola yang luas, air bersih, dan ada sekitar 10 toilet. Bisa dibilang basecamp Pakuwaja ini salah satu basecamp paling lengkap dan nyaman di dataran tinggi Dieng,” katanya.

Lokasi basecamp cukup mudah ditemukan. Dari arah Desa Wisata Sembungan, wisatawan cukup melewati tugu desa wisata, kemudian mengambil arah belok kiri. Jaraknya hanya sekitar 25 meter dari titik tersebut.
Sementara itu, jalur pendakian menuju puncak Pakuwaja telah dibuat lebih lebar dan relatif landai. Wisatawan rata-rata hanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit dari basecamp untuk mencapai kawasan puncak. Puncak pakuwaja juga merupakan salah satu destinasi wajib even Dieng Caldera Race (DCR)
“Effort minimal, view maksimal,” ujar Kang Burham, salah satu pemandu wisata di Sembungan.
Dari sisi topografi dan akses, jalur Pakuwaja dinilai lebih mudah dibandingkan jalur Sikunir. Bagi wisatawan keluarga, pemula maupun pengunjung dari berbagai kelompok usia, jalur ini menjadi alternatif menarik untuk menikmati panorama matahari terbit di kawasan Dieng.
Untuk menuju basecamp, wisatawan juga dapat memanfaatkan jasa ojek dengan tarif sekitar Rp25 ribu. Tiket masuk kawasan sebesar Rp15 ribu. Sementara biaya penitipan kendaraan dipatok Rp20 ribu untuk sepeda motor dan Rp30 ribu untuk mobil.
Petunjuk arah menuju jalur pendakian juga telah dipasang dengan jelas, termasuk tambahan penerangan sehingga memudahkan wisatawan yang melakukan perjalanan sejak dini hari untuk berburu golden sunrise. Dan juga sudah disiapkan 2 unit gazebo dipos 1 dan 2 untuk melepas lelah.

Pembukaan jalur Pakuwaja sendiri tidak dilakukan tanpa pertimbangan. Pengembangan objek wisata baru tersebut merupakan bagian dari masukan para ahli dan konsultan pariwisata yang mendorong Desa Wisata Sembungan untuk memiliki alternatif destinasi yang mampu memberikan pengalaman serupa dengan Sikunir.
Pakuwaja juga memiliki nilai geologi karena menjadi bagian dari warisan geologi Geopark Dieng. Di puncaknya terdapat batu menjulang yang menjadi ciri khas kawasan tersebut. Dari bentuk batu itulah muncul nama Pakuwaja, yang dipercaya masyarakat berkaitan dengan filosofi “paku baja” sebagai paku Pulau Jawa agar tetap tenang dan tidak berguncang.
Ketua Dewan Pengawas Pengelola Desa Wisata Sembungan, Tafrihan, mengapresiasi pembukaan jalur tersebut. Menurutnya, keberadaan Pakuwaja menjadi salah satu upaya meningkatkan kualitas pelayanan wisata sekaligus mengurangi kepadatan wisatawan di Sikunir.
“Tujuan utamanya adalah melayani wisatawan dengan maksimal. Wisatawan tetap bisa menikmati view sunrise tercantik di Asia dengan pengalaman yang hampir sama seperti dari bukit sebelahnya, Sikunir, tetapi dengan suasana yang lebih nyaman,” jelas Tafrihan.
Ia menambahkan, pengembangan jalur Pakuwaja juga merupakan bagian dari hasil konsultasi dengan pakar pariwisata dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam sebuah rapat koordinasi di Semarang.
Dari puncak Pakuwaja, wisatawan tetap dapat menikmati panorama Telaga Cebong, Gunung Sindoro-Sumbing serta hamparan lautan awan yang menjadi daya tarik utama kawasan Dieng.
Tafrihan berharap hadirnya alternatif baru ini dapat membuat pengalaman wisatawan semakin menyenangkan.
“Semoga dengan dibukanya jalur baru ini tidak ada lagi wisatawan yang mengeluh karena sudah datang jauh-jauh untuk wisata, tetapi suasananya seperti pasar pagi atau antre sembako. Di Pakuwaja, kami menjamin pengalaman yang lebih ramah bagi wisatawan dari berbagai kalangan dan usia,” pungkasnya.(taf)






