TRAVELNESIA, TEMANGGUNG- Jika berkunjung ke Kabupaten Temanggung, orang mengira daerah ini hanya penghasil tembakau terbaik. Pun dengan kopi lereng Sindoro Sumbingnya yang terkenal. Tidak hanya itu tuan, Temanggung memiliki kesejarahan panjang di dunia perunggasan.
Terutama ayam. Sejak tahun 2018 silam, Temanggung mencatat banyak pengakuan nasional diantaranya Ayam Kedu, Ayam Cemani, dan Ayam Maron adalah kekayaan asli Temanggung dan sudah diakui negara secara hak cipta.
Di daerah Maron, terdapat Satuan Kerja (Satker) Ayam Maron yang ngurusi khusus budidaya ayam yang diakui diatas tadi. Satker ini milik Balai Peternakan Provinsi Jawa Tengah. Gedungnya terlihat sepi sehari-hari. Tidak ada aktivitas sebagaimana peternakan. Ini gedung khas milik pemerintah.
Petugas Satker Ayam Maron, Dahyono menjelaskan minat terhadap doc ayam sangatlah tinggi. Untuk saat ini antrian sudah sampai Desember mendatang. Mereka para tim di balai menerima pemesanan DOC online maupun offline.
“Untuk jenis DOC ayam maron sudah sampai Desember,” katanya.
Ayam yang saat ini banyak diminati masyarakat adalah ayam jenis maron petelur. Jenis lain proses produksi menyesuaikan pembeli. Jika ada calon pembeli barulah balai peternakan memproduksinya. Akses pasar ayam hias memang tidak seluas ayam petelur. Apalagi di saat ini dunia bisnis perunggasan tidak begitu menguntungkan bagi peternak.
Meski tidak begitu populer seperti tembakau, ayam hasil galur murni daerah ini patutlah diapresiasi sebagai sejarah kekuatan unggas nusantara dan dunia. Dalam banyak literatur, hampir seluruh ayam petelur adalah produk kawin silang dengan ayam kedu.
Bahkan, ayam bangkok yang sangat populer itupun secara genetik merupakan kawin silang dengan ayam kedu. Ini untuk memperkuat adaptasi lingkungan khas tropis kalau mau ayam bangkok berkembang.
Ada pula ayam red (petelur) murni yang dibreding oleh pabrikan itupun sebenarnya hasil kawin silang genetiknya dengan ayam lokal Kedu. Terbukti, ayam maron 1 yang dicetak menjadi petelur merupakan kawin silang ayam arab dengan kedu merah.
Hasilnya; sedikitnya ayam maron bisa menghasilkan telur antara 200-250 butir per tahun.Ayam Kuntara yang cetakan pakar unggas Anggoro Jogja yang populer itu pun cetakan kedu merah, barred rock dari Inggris dan ayam layer.
Apresiasi terhadap perkembangan ayam asli Temanggung ini belum begitu besar karena hanya semata industri. Pabrikan memilih ayam yang cepat panen, banyak telur, dan harga ekonomis secara pasar. Untuk ayam khas Temanggung nampaknya belum berani bersaing soal itu.
Sehingga tidak banyak diproduksi secara massal. Hanya warga lokal yang memelihara itu pun masih sebagai sampingan. Pakan ayam pabrikan harganya terus melambung tak terbendung.
Jika nantinya ayam khas Temanggung ini hanya menjadi sejarah, tentu sudah tercatat didalam data dunia; Indonesia memiliki ayam asli yang ada di Temanggung.
Jika nantinya bisa berkembang pesat menjadi produksi massal, tentu itulah kejayaan ayam-ayam Nusantara yang pada masa kerajaan menjadi sebuah oleh-oleh kemewahan tamu negara.(cunk)






