Petani Lokal Wonosobo Didorong Lebih Maju

TRAVELNESIA, WONOSOBO — Pemerintah Kabupaten Wonosobomendorong percepatan hilirisasi potensi pangan lokalmelalui pengembangan opak singkong di DesaCledok, Kecamatan Kaliwiro. Kolaborasi antarapemerintah daerah, masyarakat, Politeknik ATMI Surakarta, dan FKS Group tersebut diarahkan untukmeningkatkan nilai tambah singkong sekaligusmemperkuat ekonomi petani dan perajin lokal.

Hal tersebut mengemuka dalam Audiensi dan SinergiPengembangan Ekonomi Lokal Berbasis PotensiPangan di Pendopo Belakang Kabupaten Wonosobo, Jumat (25/9/2026).

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengatakan, pengembangan opak singkong di Cledok merupakanproses yang telah berlangsung cukup panjang dan kinimemasuki tahap penyelesaian berbagai persyaratanagar fasilitas produksi dapat segera beroperasi.

“Ini proses yang cukup lama dan panjang, sudahhampir satu tahun lebih. Ternyata masih dalam tahappenyelesaian izin dan lain-lain. Harapannya bulanNovember sudah bisa beroperasi, mengingat kitasudah memasuki musim penghujan,” ujar Afif.

Afif menyampaikan apresiasi kepada pemerintah desa, FKS Group, dan Politeknik ATMI Surakarta yang telahbersama-sama mengangkat potensi pangan lokalWonosobo.

Ia menilai penguatan tidak cukup dilakukan pada sisiproduksi, tetapi juga harus dimulai dari hulu, terutamamemastikan keberlanjutan bahan baku dankesejahteraan petani singkong.

“Packaging yang bagus ada nilai jual yang lebih tinggi. Jadi kita kuatkan mulai dari hulunya. Terlebih hargasingkong masih murah dan tantangannya tentubagaimana petani mau menanam singkong lagi,” katanya.

Menurut Afif, keberlanjutan menjadi hal penting karenatanaman singkong membutuhkan waktu sekitardelapan bulan hingga panen. Karena itu, peningkatanproduksi opak harus diikuti kepastian pasar dan hargayang mampu memberikan manfaat bagi petani.

“Jangan sampai petaninya semangat, tetapi hargajualnya rendah,” tegasnya.

Afif berharap fasilitas produksi tersebut dapat mulaiberjalan pada awal 2027 sehingga pengembanganopak di Cledok dapat menjadi contoh bagi desa-desalain dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasispangan lokal.

VP of Corporate Communication and Sustainability FKS Group, Patris, menjelaskan bahwa inisiatifpengembangan opak berawal dari kunjungan tim R&D FKS ke Wonosobo yang melihat besarnya potensiopak sebagai produk pangan lokal.

“Awalnya tim R&D kami datang ke Wonosobo lalumelihat ternyata Wonosobo itu punya potensi opakyang luar biasa. Opaknya juga enak, tetapi banyakmasyarakat yang belum mengenal opak Wonosobo,” ujar Patris.

FKS kemudian berkolaborasi dengan Politeknik ATMI Surakarta melalui program Bestari Saintek yang didukung LPDP dan Kemendiktisaintek. Dalamkolaborasi tersebut, Politeknik ATMI mengembangkanteknologi tepat guna berupa mesin produksi untukmembantu meningkatkan kapasitas, konsistensi, danhigienitas pengolahan opak.

Sementara FKS Group menyiapkan fasilitas produksisekaligus berkomitmen menjadi off-taker, sehinggaproduk yang dihasilkan para perajin memiliki jalurhilirisasi dan pemasaran.

“Biasanya pengrajinnya sudah didampingi, tetapiproduksinya mau ke mana. Nah, kami akanberkomitmen sebagai off-taker-nya,” kata Patris.

FKS menyiapkan fasilitas produksi di atas lahan milikDesa Cledok berukuran sekitar 9 x 24 meter. Nilaipembangunan fasilitas diperkirakan sekitar Rp1 miliar, sedangkan kebutuhan peralatan produksi sekitarRp700 juta.

Fasilitas tersebut ditargetkan siap pada November 2026. FKS juga akan melanjutkan pendampinganbersama Politeknik ATMI untuk memastikan kapasitasproduksi, higienitas, dan kualitas produk tetap terjaga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *