TRAVELNESIA, WONOSOBO- Pada 26 September 2026, Indonesia kehilangan salah seorang seniman yang selama puluhan tahun ikut mewarnai perjalanan kebudayaan nasional. Guruh Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, meninggal dunia pada usia 73 tahun setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit. Kepergiannya meninggalkan duka, bukan hanya bagi keluarga dan orang-orang terdekat, tetapi juga bagi masyarakat Indonesia yang pernah menikmati karya-karyanya.
Guruh bukan sekadar putra seorang proklamator. Ia membangun jalannya sendiri sebagai seniman, komponis, koreografer, dan penggagas pertunjukan yang berusaha mempertemukan kekayaan tradisi Nusantara dengan ekspresi seni modern.
Karya-karyanya tidak berhenti sebagai bagian dari sejarah musik dan seni pertunjukan Indonesia. Lebih jauh, karya tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari jejak soft power dan diplomasi budaya Indonesia. Dalam hubungan internasional, diplomasi tidak selalu berlangsung di meja perundingan.
Negara dapat membangun citra, kepercayaan, dan kedekatan dengan bangsa lain melalui musik, film, kuliner, bahasa, olahraga, dan seni. Gagasan ini sejalan dengan konsep soft power yang diperkenalkan oleh Joseph Nye, yang menempatkan budaya sebagai salah satu sumber daya penting dari kekuatan sebuah negara. Daya tarik budaya memungkinkan suatu bangsa menjadi lebih dikenal, dipahami, dan diapresiasi oleh masyarakat negara lain.
Di sinilah jejak Guruh Soekarnoputra menjadi menarik. Ia tidak mempertentangkan tradisi dengan modernitas. Sebaliknya, keduanya dipertemukan dan diolah menjadi ekspresi artistik baru. Ia mengemasnya dalam bentuk seni yang merepresentasikan Indonesia dan dikomunikasikan secara menarik kepada dunia.
Melalui Guruh Gipsy, misalnya, Guruh melakukan eksperimen musik yang mempertemukan musik modern dengan unsur tradisi Indonesia, termasuk gamelan Bali dan nuansa Jawa-Bali. Kolaborasi dengan para musisi seperti Chrisye, Keenan Nasution, Roni Harahap, dan Oding Nasution menghasilkan karya yang pada masanya tergolong berani dan eksperimental.
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan lebih jauh melalui Swara Maharddhika, di mana musik, tari, koreografi, busana, tata panggung, dan unsur teatrikal dirangkai menjadi satu kesatuan pertunjukan. Pergelaran seperti Untukmu Indonesiaku, Cinta Indonesia, dan Gilang Indonesia Gemilang menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi medium untuk menghadirkan Indonesia dalam bentuk yang modern, dinamis, tetapi tetap berakar pada kebudayaan Nusantara.
Apa yang dilakukan Guruh menyimpan gagasan penting tentang identitas budaya. Indonesia tidak harus menjadi “Barat” untuk menjadi modern. Modernitas dapat berjalan berdampingan dengan identitas Indonesia. Gamelan tidak harus ditinggalkan hanya karena musik pop dan rock menjadi arus utama. Tari tradisional tidak harus ditempatkan hanya sebagai tontonan seremonial. Busana Nusantara tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang konservatif. Tradisi justru dapat diberi ruang untuk berdialog dengan zaman.
Dalam konteks inilah karya Guruh relevan dengan gagasan “berkepribadian dalam kebudayaan”, salah satu unsur Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Berkepribadian dalam kebudayaan bukan berarti menutup diri terhadap pengaruh luar. Sebaliknya, ia mengandung kemampuan untuk menerima, menyerap, dan mengolah pengaruh luar tanpa kehilangan jati diri. Sumber:Kompas






