Sukun Tanaman Khas Indonesia yang Bisa Pasok Ketahanan Pangan

TRAVELNESIA, WONOSOBO- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan cuaca sepekan yang dirilis 14 September 2026, melaporkan atmosfer kering masih mendominasi hampir seluruh wilayah Indonesia hingga periode 15-21 September 2026. Sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan 1.637 titik pemantauan tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan, tersebar hampir di seluruh Indonesia.

Kombinasi kemarau dan penguatan El Nino ini, turut memicu meluasnya kebakaran hutan dan lahan, dengan pemantauan satelit pada 13 September 2026 mendeteksi 627 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan. Berikutnya, 200 titik di Papua dan Maluku, 104 titik di Sulawesi, serta 86 titik di Sumatera yang sebagiannya telah memicu sebaran kabut asap lintas wilayah.

Kementerian Pertanian mengonfirmasi peningkatan luasan sawah terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino. Hingga pertengahan September 2026, total area pertanian terdampak kekeringan di Indonesia melonjak mencapai 50.000 hektar. Sebagian besar kerentanan ini berada di area lahan tadah hujan atau kawasan upland yang tidak memiliki akses jaringan irigasi memadai.

Di tengah situasi ini, belum banyak masyarakat yang menjadikan potensi pohon sukun (Artocarpus altilis) sebagai solusi kedaulatan pangan berbasis sistem perakaran dan pola panennya yang tidak bergantung pada musim hujan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Agrosilvopasture-Tech pada 2024 mengkarakterisasi morfologi sukun di Desa Ohoitahit dan Danar, Kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara, wilayah dengan curah hujan rata-rata hanya 200-400 milimeter per tahun dan musim kemarau panjang dari Juni hingga November. Tim peneliti dari Universitas Pattimura yang dipimpin Amat Reniwurwarin menyimpulkan bahwa sukun di kawasan tersebut tetap tumbuh subur meski kondisi iklim tergolong keras.

“Sukun di Kepulauan Kei terindikasi toleran terhadap cekaman kekeringan,” tulis Reniwurwarin dan kolega dalam studi mereka.

Temuan ini konsisten dengan riset lain yang lebih spesifik meneliti wilayah Indonesia. Tim peneliti dari Universitas Indonesia yang dipimpin Suyud Warno Utomo, dalam studi yang terbit di jurnal Frontiers in Plant Science pada April 2024, memetakan kesesuaian lahan budidaya sukun di Jawa Tengah menggunakan model distribusi spesies berbasis data iklim WorldClim, yang menegaskan karakter unik pohon tersebut dibanding tanaman pangan lain.

“Sukun memiliki potensi tidak hanya untuk beradaptasi, tetapi juga untuk tumbuh subur,” tulis Utomo dan kolega dalam jurnal.

Riset berjudul “Predicting the Suitable Cultivation Areas of Breadfruit Crops Artocarpus altilis (Moraceae) under Future Climate Scenarios in Central Java, Indonesia,” menyebut kemampuan sukun bertahan di kondisi yang mematikan bagi tanaman lain. Penelitian ini juga turut menghitung bahwa area yang cocok untuk budi daya sukun di Jawa Tengah saat ini mencapai 9.737,778 kilometer persegi atau 28,35 persen dari total luas provinsi tersebut, dengan proyeksi wilayah kesesuaian tinggi justru meluas ke arah timur pada 2070 apabila kenaikan suhu global ditahan pada level 1 derajat Celsius.
Sukun lebih tangguh dari padi
Ketangguhan sukun terhadap krisis iklim telah diuji dalam skala global. Studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS pada Agustus 2022 oleh tim peneliti Northwestern University memetakan kesesuaian iklim sukun di seluruh dunia menggunakan enam model prediksi berbasis data persebaran global. Mereka menemukan area layak tanam sukun yang diproyeksikan tetap relatif stabil bahkan dalam skenario perubahan iklim ekstrem.

Dalam studi berjudul “Potential of Breadfruit Cultivation to Contribute to Climate-Resilient Low Latitude Food Systems” tersebut, menyebut sukun sebagai tanaman terabaikan yang justru punya keunggulan dibanding tanaman pokok lain. Sukun diproyeksikan lebih tangguh daripada padi dalam menghadapi beberapa faktor stres akibat krisis iklim.

Berbeda dengan padi yang harus ditanam kembali setiap musim, sukun adalah tanaman pohon berumur panjang (dapat hidup dan berbuah lebih dari 50 tahun), membutuhkan input energi budidaya lebih rendah, serta membantu menyerap karbon. Dari segi hasil panen dan kandungan nutrisi, sukun setara bahkan dalam beberapa kasus melampaui padi, gandum, dan jagung.

“Setelah pohon sukun tumbuh dengan baik (established), pohon ini mampu bertahan dalam kondisi kekeringan selama 3-4 bulan,” tulis para peneliti.

Tanaman pangan pokok konvensional seperti padi, jagung, dan gandum diproyeksikan mengalami penurunan hasil panen signifikan di wilayah tropis dan subtropis karena kondisi yang makin memanas. Sebaliknya, sukun dianggap sebagai alternatif yang lebih tangguh dan berpotensi mengisi celah krisis pangan, ketika padi semakin tidak cocok dengan kenaikan suhu.

Budidaya sukun menawarkan sejumlah keunggulan lingkungan yang signifikan, misalkan sebagai penyerapan karbon, karena tanaman ini berumur panjang yang dapat hidup dan berbuah hingga lebih dari 50 tahun; sukun dapat menyerap dan menyimpan karbon secara efektif dari atmosfer. Selain itu sukun tidak perlu ditanam kembali setiap musim (annual replanting) seperti tanaman pangan pokok musiman, sehingga membutuhkan input energi budidaya yang lebih sedikit.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *