Di balik rapatnya vegetasi hutan, kucing-kucing liar bergerak nyaris tanpa suara. Tubuhnya lentur, kaki pendek hingga sedang, cakar tajam, serta mata yang mampu menangkap gerak mangsa; bahkan hanya dengan bantuan pendar cahaya bulan atau bintang.
Corak bulu mereka beragam. Berbintik, bergaris, atau loreng yang membantu tubuhnya menyatu dengan bayang-bayang vegetasi. Mereka memang bukan harimau atau macan tutul yang menjadi ikon predator hutan. Namun dengan tubuh yang jauh lebih kecil, kucing-kucing ini tetaplah berburu karena demikianlah cara mereka mendapatkan makanan. Ada mamalia kecil, reptil, hingga burung yang menjadi target mereka.
Sayangnya, posisinya sebagai predator kecil seolah tak dianggap dalam menjaga rantai makanan hutan. Berapa banyak orang yang mengenal misalnya, kucing kuwuk, kucing merah, dan kucing emas dibanding harimau, singa, atau macan tutul?
Akibatnya merekapun kerap terlupakan dalam aksi konservasi. Padahal menjaga ekosistem tak selalu diperankan satwa besar. Namun juga oleh predator-predator kecil ini.
Kucing liar di Indonesia
Di hutan Kalimantan, ada kucing merah (Pardofelis badia) yang rekamannya pada 2023 lalu mengejutkan dunia ilmu pengetahuan, karena muncul setelah lebih dari 20 tahun tidak ada dokumentasi baru. Sangat sedikit yang diketahui tentang kucing endemik Kalimantan ini. Sampai-sampai, sebagian peneliti dan pegiat konservasi menjulukinya “hantu”.
Beruntung pada Agustus 2026 pergerakannya kembali terekam kamera pantau di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Kali ini satwa eksotik ini membawa sesuatu di mulutnya.
“Kemungkinan besar satwa mangsa yang dibawa adalah jenis Tupaia dorsalis. Sampai saat ini diketahui salah satu jenis satwa mangsanya adalah hewan pengerat dan tupai,” kata Jefrey Frihardian Gumilar kepada Mongabay Indonesia. Jefrey adalah Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda TNKM.
Para ilmuwan memperkirakan spesies ini memiliki panjang generasi sekitar enam tahun. Namun detil masa kehamilan, umur panjang individu di alam liar belum diketahui. Belum ada studi khusus tentang kucing merah meski hewan ini telah dikenali lebih dari satu abad.
Predator senyap lainnya adalah kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis). Tubuhnya ramping, dengan corak tutul hitam di atas bulu kecokelatan yang membuatnya hampir menyatu dengan lantai hutan. Itu sebabnya dia juga dijuluki leopard mini. Penyebarannya di Indonesia cukup luas. Dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, juga Bali. Meski begitu, eksistensinya masih kerap luput dari perhatian.
Dia menjadi penjaga keseimbangan populasi hewan pengerat dan serangga besar di hutan, sekaligus indikator kesehatan ekosistem. Data mengenai jumlah populasi, wilayah jelajah, dan kebiasaan berburunya di Indonesia masih sangat terbatas.
Ancaman utama datang dari hilangnya habitat, perburuan, serta konflik dengan manusia di kawasan pertanian. Dalam konteks konservasi, keberadaan kucing kuwuk menjadi pengingat bahwa melindungi “kucing besar” saja tidak cukup. Predator kecil yang bekerja diam-diam di lantai hutan ini juga membutuhkan perhatian yang sama seriusnya.
Kucing liar di Bolivia
Hutan Yungas di Bolivia menjadi habitat satu spesies kucing tak dikenal. Ilmuwan akhirnya mengenalinya setelah lebih 100 tahun. Selama itu pula, belum ada penemuan spesies kucing baru. Spesies kucing terakhir yang dideskripsikan adalah Leopardus fasciatus pada 1923 untuk kucing savana Uruguay.
Penemuan ini bukan sekadar soal menemukan seekor kucing yang belum pernah dikenal. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok kucing yang selama ini dianggap hanya terdiri dari beberapa jenis, ternyata memiliki keragaman lebih besar. Dengan memeriksa DNA, para peneliti menemukan bukti adanya kucing macan kecil (tiger cat) yang memiliki identitas genetik sendiri.
“Kami tidak pernah menyangka kucing harimau Bolivia ini akan menjadi spesies terpisah, dan tidak ada yang pernah mengusulkannya sebagai hewan berbeda, baik subspesies maupun lainnya,” kata Jonas Lescroart, dikutip dari Reuters.
Dia adalah pakar biologi evolusi dari Universitas Antwerp, Belgia, sekaligus penulis utama laporan studi itu. Temuan tersebut diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada 17 September 2026. Judulnya, “Phylogenomics and museomics reveal five distinct species of tiger cats in South America.”
Kucing itu diberi nama ilmiah Leopardus tilcayo atau lebih sederhana disebut kucing tilcayo. Perawakannya kecil, lebih kecil dari kucing rumah. Panjang tubuhnya sekitar 42,5 hingga 50,5 sentimeter, sedangkan ekornya sekitar 25 hingga 26,5 sentimeter. Beratnya diperkirakan sekitar 1,4 kilogram.
Meski begitu, dia tetaplah kucing macan, sebutan untuk kelompok kucing kecil genus Leopardus dari Amerika Selatan. Gara-garanya, corak loreng atau roset warna gelap di atas warna cokelat kekuningan yang seperti macan.
Nama tilcayo sendiri bukan sembarangan disematkan oleh para ilmuwan. Nama itu merupakan nama lokal yang digunakan masyarakat di kawasan Yungas Bolivia untuk menyebut kucing ini. Para peneliti memutuskan mempertahankan nama lokal itu untuk nama ilmiahnya sebagai penghormatan atas pengetahuan, identitas, dan budaya lokal.






