Jejak Sejarah Pasar Tradisional Tertua di Indonesia: Dari Muara Kuin hingga Beringharjo

Karakteristik pasar tradisional tertua di Indonesia juga tersebar di berbagai daerah. Pasar Peunayong (Banda Aceh). Pasar ini berdiri abad ke-17 (Peu Payong) seiring hadirnya pedagang Tionghoa, India, dan Persia.

TRAVELNESIA, MAGELANG- Sejarah pasar tradisional di Indonesia berawal dari sistem barter di tepi sungai dan persimpangan jalan. Aktivitas perdagangan di Nusantara telah berlangsung sejak abad ke-4 Masehi pada era Kerajaan Kutai Kartanegara.

Tata niaga tradisional di Jawa berkembang mengikuti siklus pasaran lima harian (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage). Seiring melintasi era kerajaan, kolonial Hindia Belanda, hingga pendudukan Jepang, pasar tradisional tidak hanya menjadi pusat ekonomi. Tetapi juga saksi bisu sejarah dan peradaban bangsa.

Pasar Tradisional Tertua di Indonesia, Warisan Muara Kuin dan Lok Baintan

Di Kalimantan Selatan, Pasar Terapung Muara Kuin di Banjarmasin menjadi ikon niaga perairan sejak sekitar tahun 1530 Masehi pada era Sultan Suriansyah. Transaksi di atas perahu jukung dan kelotok di Sungai Barito ini mempertemukan pedagang Banjar dengan saudagar Jawa, Arab, hingga Tiongkok.

Selain itu, Pasar Terapung Lok Baintan berkembang sejak tahun 1612 Masehi menyusul pemindahan pusat kerajaan ke Kayu Tangi.

Ikon Niaga Yogyakarta

Kotagede dan Beringharjo Yogyakarta menyimpan dua pasar legendaris dengan nilai filosofis mendalam. Dua pasar tradisional itu adalah Pasar Legi Kotagede dan Pasar Beringharjo.

Pasar Legi Kotagede berdiri sejak abad ke-16. Pasar tradisional tertua di Indonesia yang ada di Yogyakarta ini dirintis oleh Ki Gede Pemanahan. Keberadaannya mengusung konsep tata ruang Catur Gatra Tunggal yang menyatukan keraton, alun-alun, masjid, dan pasar (Sargedhe).

Sedangkan, Pasar Beringharjo berdiri tahun 1758 oleh Sultan Hamengku Buwono I dan meresmikan namanya pada 24 Maret 1925 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Pasar tersebut kini menjadi pusat penjualan batik terbesar di Yogyakarta.

Perkembangan kota pelabuhan Jakarta pada masa kolonial melahirkan pusat belanja bersejarah. Pasar Tanah Abang berdiri sejak 30 Agustus 1735. Pendirinya Yustinus Vinck sebagai Pasar Sabtu, kini berkembang menjadi pusat grosir tekstil terbesar.

Pasar Jatinegara berakar dari abad ke-17 atau 18 dengan nama Meester Passer di kawasan Cornelis Senen. Selanjutnya Pasar Baru yang diresmikan tahun 1820 (Passer Baroe), menjadi pusat belanja tertua di Jakarta yang sarat akulturasi budaya Tionghoa dan India-Indonesia.

Jawa Tengah sendiri memiliki pasar tradisional tertua di Indonesia. Pasar ini berarsitektur khas seperti Pasar Gede Hardjonagoro (Solo) yang dirancang arsitek Herman Thomas Karsten pada tahun 1927 di bawah Raja Pakubuwono X, memadukan gaya kolonial dan Jawa.

Pasar Klewer (Solo) menjadi pusat perdagangan kain batik utama yang berkembang pesat sejak masa pendudukan Jepang (1942–1945). Serta Pasar Johar (Semarang) yang Beroperasi sejak 1860 dan terkenal dengan arsitektur atap berbentuk cendawan.

Karakteristik pasar tradisional tertua di Indonesia juga tersebar di berbagai daerah. Pasar Peunayong (Banda Aceh). Pasar ini berdiri abad ke-17 (Peu Payong) seiring hadirnya pedagang Tionghoa, India, dan Persia.

Kemudian, Pasar Seni Sukawati (Bali) yang resmi berdiri pada pertengahan 1980-an sebagai pusat kerajinan seni. Serta Pasar Tomohon (Sulawesi Utara) yang beraktivitas sejak tahun 1852 di Minahasa. Pasar ini terkenal dengan komoditas daging hewan yang unik. Sumber:Harapanrakyat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *