TRAVELNESIA, JAKARTA- Ada kisah panjang di aroma kecap manis yang akrab di meja makan keluarga Indonesia.
Tentang tanah, benih, dan manusia. Tak banyak yang tahu bahwa bahan utama kecap Bango salah satu produk legendaris Unilever Indonesia merupakan varietas unggul yang lahir dari kerja sama antara petani lokal, akademisi, dan korporasi.
Namanya kedelai Malika, varietas hitam yang menjadi simbol kolaborasi keberlanjutan antara sains dan bisnis, antara dapur dan lahan.
Indonesia selama ini dikenal sebagai konsumen kedelai yang besar, namun ironisnya bukan produsen utama. Setiap tahun, permintaan kedelai untuk tahu, tempe, dan kecap terus meningkat, sementara produksi dalam negeri masih tertinggal jauh dari kebutuhan nasional.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), produktivitas kedelai nasional pada 2022 hanya sekitar 15,43 kuintal per hektare atau 1,54 ton per hektare, dengan total produksi sekitar 301 ribu ton.
Padahal kebutuhan nasional diperkirakan mencapai hampir 2,8 juta ton, menyebabkan Indonesia harus mengimpor sekitar 2,5 juta ton setiap tahun. Pada 2023, impor kedelai bahkan mencapai 2,67 juta ton, mayoritas berasal dari Amerika Serikat dan Brasil.






