Hutan yang ramai kicau burung belum tentu sehat: Riset membuktikannya lewat pohon evolusi

TRAVELNESIA, JAKARTA- Sahutan kicauan burung di pagi hari merupakan hal normal di hutan tropis. Semakin banyak jenis yang terdengar atau terlihat, semakin kita menganggap hutannya sehat.

Namun, jumlah spesies bukan satu-satunya tolok ukur kondisi hutan. Dalam biologi evolusi, ada pertanyaan lain yang sama pentingnya: sejauh mana kekerabatan burung-burung yang hidup bersama di sana?

Seram, Sulawesi, dan Talaud, saya bersama tim menemukan bahwa kawasan hutan lebat tak otomatis jadi tempat tinggal ragam spesies burung.

Temuan kami menunjukkan bahwa menilai keanekaragaman burung tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah spesies. Untuk memastikan pelestarian dan menjaga keberagamannya, kita juga perlu melihat “pohon keluarga” mereka.

Menelusuri silsilah keluarga burung

Bayangkan seluruh spesies burung di Bumi terikat dalam satu silsilah keluarga raksasa. Bahkan termasuk spesies yang nenek moyangnya telah berpisah sejak jutaan tahun lalu sekalipun berada di silsilah evolusi yang lebih jauh.

Kami juga membandingkan komunitas burung dengan kondisi hutan di sekeliling titik pengamatan. Tutupan hutan dihitung dalam radius 250 meter. Sementara perubahannya ditelusuri sepanjang 2010 – 2022.

Kami memakai tiga indikator “penggaris” untuk mengukur kekerabatan antarspesies yang kami temukan:

1) Phylogenetic diversity (PD): Menghitung total panjang keseluruhan cabang pohon evolusi yang menghubungkan burung-burung di suatu tempat. Semakin panjang cabangnya, semakin luas sejarah evolusi yang tersimpan.

2) Mean pairwise distance (MPD): Melihat rata-rata jarak kekerabatan antara setiap spesies dengan seluruh spesies lain di komunitas tersebut.

3) Mean nearest taxon distance (MNTD): Berfokus pada kerabat terdekat—seberapa jauh jarak masing-masing burung dari “sepupu” terdekatnya yang hidup berdampingan.

Di pulau Buru (Maluku) yang hutannya tak banyak gangguan, burung-burung setempat hidup berdampingan, seperti cabai buru (Dicaeum erythrothorax), kring-kring buru (Prioniturus mada), dan kasturi merah (Eos bornea).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *