Puncak Wisatawan Borobudur 25-26 Desember

TRAVELNESIA.ID, Mungkid – Kawasan Candi Borobudur bersiap menghadapi lonjakan kunjungan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Puncak kepadatan pengunjung diperkirakan terjadi pada 25–26 Desember, serta 31 Desember, yang menjadi periode paling ramai sepanjang libur akhir tahun.

Direktur Komersial InJourney Destination Management (IDM) Gistang Panutur mengatakan, periode kunjungan wisatawan mengikuti agenda libur nasional yang berlangsung mulai 22 Desember hingga 1 Januari. Hal itu disampaikannya saat jumpa pers bersama awak media, Senin (23/12).

Selama masa tersebut, jumlah wisatawan yang datang ke kawasan Candi Borobudur diproyeksikan mencapai sekitar 170 ribu orang. Angka itu meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Gistang, peningkatan kunjungan dinilai wajar karena Borobudur berada dalam satu jalur pergerakan wisata dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Magelang. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sendiri memprediksi total kunjungan wisatawan selama masa Nataru mencapai sekitar 20 juta orang, dengan sekitar 5 juta wisatawan mengunjungi Yogyakarta.

Untuk menyambut wisatawan, pengelola menyiapkan sejumlah atraksi tematik. Di antaranya Kampung Medang yang menghadirkan aneka kuliner tradisional serta Kampung Dolanan yang menyasar wisatawan keluarga, khususnya anak-anak, dengan berbagai permainan tradisional.

Pada perayaan Hari Natal, pengelola juga menyiapkan agenda khusus berupa penampilan paduan suara dan kegiatan Secret Santa. Dalam kegiatan tersebut, pengunjung akan mendapatkan hadiah sebagai bagian dari perayaan. Selain itu Gistang juga menyampaikan layanan Borobudur Sunrise dan Borobudur Sunset tetap dihadirkan selama masa libur Nataru.

Sebagai puncak rangkaian kegiatan, pada 30 Desember akan digelar Pagelaran Budaya Maha Karya Borobudur yang bekerja sama dengan IFORTE. Pagelaran ini mengangkat konsep budaya nusantara bertajuk Sabang sampai Merauke.

Dari sisi operasional, pengelola memastikan kesiapan kawasan dengan menghadirkan standar pariwisata yang tinggi. Persiapan dilakukan secara menyeluruh, meliputi aspek keselamatan, keamanan, mobilitas, kesehatan, dan kualitas layanan.

Pengelola juga menjalin koordinasi dengan TNI, Polri, dan Dinas Perhubungan untuk pengamanan kawasan serta pengaturan lalu lintas. Selain itu, kerja sama dilakukan dengan Direktorat Pengamanan Objek Vital Polda Jawa Tengah dan rumah sakit terdekat untuk mengantisipasi kebutuhan penanganan kesehatan.

Gistang menambahkan, kualitas pelayanan kepada wisatawan juga ditopang oleh kesiapan petugas di lapangan. Karena itu, pengelola telah memberikan pelatihan khusus kepada para frontliner, termasuk pemandu cerita yang mendampingi wisatawan saat naik ke area candi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *